BERITA LIVE – Di halaman Keraton Kesultanan Bacan yang terbuka, ada batu bacan seberat 1,5 ton. Batu jenis ini kabarnya bisa berubah warna. Benarkah?

Tim berkunjung ke Keraton Kesultanan Bacan, Kelurahan Amasing Kota, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, Senin (4/3/2019). Keraton ini berpagar konstruksi semen dan besi layaknya pagar rumah biasa, namun ternyata ada batu bacan pula yang ditanam di tembok pagar, warnanya hijau dan merah.

Di bagian dalam pagar, terlihatlah bongkahan batu besar dengan guratan hijau-kebiruan yang terang di tengahnya. Inilah batu bacan seberat 1,5 ton. Batu itu didirikan di atas dudukan semen supaya pengunjung bisa lebih mudah melihatnya.

Tak ada atap yang melindungi batu bacan ini, hanya pohon kecil di sebelahnya. Bila hujan turun, batu ini bakal langsung basah. Meski tak ada bangunan perlindungan khusus untuk batu ini, namun batu ini pernah ditaksir bernilai tinggi. Kami menemui Jogogu (Perdana Menteri) Kesultanan Bacan, Datuk Alolong Harmain Iskandar Alam untuk mencari tahu soal batu besar ini.

“Rekan-rekan penjual batu dulu bilang ini sekitar Rp 1 miliar atau Rp 2 miliar,” kata Harmain.

Taksiran harga setinggi itu muncul saat demam akik batu bacan masih melanda Indonesia, pada 2014 silam. Batu ini ditemukan di Desa Palamea, Pulau Kasiruta, kemudian dibawa ke halaman Kesultanan ini. Secara historis, Pulau Kasiruta merupakan daerah asal Kesultanan Bacan yang eksodus dari Pulau Makian. Di Kasiruta, Kesultanan bertahan sampai empat sultan memerintah. Barulah setelah itu, pusat pemerintahan pindah ke Pulau Bacan.

“Waktu itu Pak Bupati periode lalu, Muhammad Kasuba, membawa dan taruh batu itu di depan sini. Itu sebagai lambang bahwa batu ini berasal dari wilayah Kesultanan Bacan. Sebagai simbol bersama masyarakat Bacan,” kata Harmain.

Dengan ditempatkannya batu itu di halaman Kesultanan, masyarakat dari seluruh pelosok negeri bisa lebih mudah melihat wujud asli batu yang termasyur ini. Pengunjung tidak perlu menyeberang ke Pulau Kasiruta, melainkan cukup datang ke keraton yang dapat ditempuh dengan mobil sekitar 45 menit dari Bandara Oesman Sadik, Labuha. Semua orang bisa melihatnya, namun bukan membelinya.

“Kita tidak jual. Banyak orang yang datang melihat, supaya orang tahu bahwa batu bacan yang dipakai itu seperti ini sebelum jadi batu bacan yang booming waktu itu,” kata Harmain.

Bisa berubah warna?

Tak terasa hari sudah gelap ketika kami selesai berbincang dengan Jogogu Kesultanan Bacan Harmain di dalam Keraton. Di halaman, batu bacan besar itu sedang dilap oleh petugas keraton usia paruh baya. Petugas itu menyebut dengan lirih, “Ini dulu tidak hijau seperti ini waktu pertama kali. Ini batu bisa berubah warna.”

Ternyata pengetahuan bahwa batu bacan bisa berubah warna memang sudah umum diketahui oleh para pendemen batu akik. Batu bacan yang dulu berwarna kecokelatan bisa berubah menjadi hijau tua. Batu bacan berwarna hijau tua bisa menjadi hijau muda jernih. Orang-orang biasa menggosok batu bacan itu berulang-ulang untuk mendapatkan kejernihan tertentu

Batu bacan dalam khazanah ilmu gemologi (ilmu yang mempelajari batu mulia) disebut sebagai Chrysocolla in Chalcedony, atau batu kalsedon yang mengandung krisokola. Unsur krisokola inilah yang memberi warna pada kalsedon. Di pasaran dunia, batu bacan disebut sebagai ‘gem silica’.

Gemologis dari Institut Gemologi Amerika (GIA) Hobart King menulis di situsnya, warna hijau atau biru dari gem silica berasal dari kandungan tembaga. Dalam proses pembentukannya, mineral-mineral sekunder mengalir mengisi rongga endapan bebatuan. Endapan mineral inilah yang pada jutaan tahun sesudahnya menjadi batu bacan.

Disebutnya, batu kalsedon termasuk batu bacan punya karakteristik berpori. Kandungan warna di dalam batu bacan bisa berubah karena batu itu memang berpori. Bila direndam dalam air, maka batu ini bakal cepat berubah warna, entah karena kehilangan unsur tembaganya atau karena kemasukan unsur baru dari air tempat merendam. Jadi benar, batu bacan memang dapat berubah warna.

HC Einfalt dan H Sujatmiko dalam peneilitan yang diterbitkan dalam ‘The Journal of Gemmology’ Volume 30 Nomor 3/4 Tahun 2006 menyebut batu bacan adalah batu kalsedon dan kuarsa (quartz) yang mengandung krisokola sehingga bisa punya warna khas. Bila diteropong menggunakan mikroskop binokular, komposisi warna bacan dengan warna tunggal ternyata terdiri dari banyak warna. Soalnya, distribusi mineral dalam batu memang tersebar acak.

Warna batu bacan rentan mengalami perubahan kimia. Asam klorida yang dilarutkan dalam air bisa mengubah warna bacan dengan cepat menjadi lebih putih. Bahkan asam sitrat yang terkandung dalam produk pembersih rumah tangga bisa mengubah warna bacan menjadi kekuningan setelah dilakuan perendaman 15 menit.

Soal tingkat kekerasan, batu bacan disebut Hobart King berada pada skala Mohs 7 dari 10, artinya cukup kuat untuk dibuat aneka rupa perhiasan. Sedangkah Enifalt dan Sujatmiko menyatakan batu bacan punya tingkat kekerasan yang tidak seragam, namun rata-rata punya tingkat kekerasan skala 6 ke atas.

(GR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *