Sudah dipercaya bawa sial, nama desa yang terkutuk ini dilarang disebut di Italia

BERITA LIVE – Sebagian besar warga Yang berada di Colobraro sendiri memang tidak mempercayai takhayul yang dilekatkan kepada kampung merekagar bisa a. Untuk mematahkan anggapan warga desa lain tentang desa tersebut, mereka mengadakan pertunjukan drama pada tahun 2011. Mereka mengundang warga desa-desa lain untuk menyaksikan legenda Colobraro yang meliputi para masciare (penyihir wanita), monachicchio (biarawan cilik), dan lupumanare (manusia serigala). Sebelum memasuki desa, para pendatang yang sudah dibekali cingiok, jimat yang terdiri dari tiga butir garam penangkal mantra, tiga pucuk rosemary untuk melawan roh jahat, dan bunga lavender sebagai simbol kebajikan serta ketenangan.

Berkat acara itu, semakin banyak pendatang yang akan bersedia datang ke Colobraro. pada Kali ini takhayul yang meliputi desa tak lagi jadi momok, tetapi justru mendatangkan rasa penasaran wisatawan. Walaupun begitu, Colobraro masih tetap menjadi desa yang namanya lebih baik tak usah disebut.

Desa yang namanya tak boleh disebut ini katanya sempat menjadi sarang penyihir sampai tahun 1950-an. Kala itu para masciare, perempuan-perempuan tukang tenung yang mengendalikan seluruh Colobraro dengan sihir hitam mereka. Namun reputasi pembawa sial Colobraro baru dimulai ketika Biagio Virgilio menjabat sebagai pemimpin desa. “Semoga lampu gantung ini jatuh jika aku berkata dusta,” sumpahnya pada suatu pertemuan di desa tetangga Matera. Dan seketika lampu gantung yang tergantung di tengah ruangan pun jatuh tanpa sebab.

Sejak itu kecelakaan mobil, bayi lahir tak sempurna, dan bencana lainnya dikait-kaitkan dengan tulah yang dibawa Colobraro beserta para penghuninya.

“Don Biagio Virgilio? Tentu saja saya mengingatnya! Orang-orang itu mengada-ada saja. Dia tidak membawa sial. Kalau ada orang luar desa yang mengalami kemalangan dengan mobil mereka, entah mobilnya mogok, ban bocor, atau mesinnya rusak, mereka selalu menyalahkan desa ini,” bela Matteo, salah satu penduduk Colobraro.

dari Sebagian besar warga Colobraro sendiri memang tidak bisa mempercayai takhayul yang dilekatkan kepada kampung mereka. untuk mematahkan anggapanwarga desa lain tentang desa tersebut, mereka mengadakan pertunjukan drama pada tahun 2011. Mereka akan mengundang warga desa-desa lain untuk menyaksikan legenda Colobraro yang meliputi para masciare (penyihir wanita), monachicchio (biarawan cilik), dan lupumanare (manusia serigala). Sebelum memasuki desa, para pendatang dibekali cingiok, jimat yang terdiri dari tiga butir garam penangkal mantra, tiga pucuk rosemary untuk melawan roh jahat, dan bunga lavender sebagai simbol kebajikan serta ketenangan.

Berkat acara itu, semakin banyak pendatang yang bersedia datang ke Colobraro. Kali ini takhayul yang meliputi desa tak lagi jadi momok, tetapi justru mendatangkan rasa penasaran wisatawan. Walaupun begitu, Colobraro masih tetap menjadi desa yang namanya lebih baik tak usah disebut.  {le}

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *