Analisis PVMBG Mengenai Gempa Serta Juga Longsor Yang Ada Di Beberapa Wilayah

BERITA LIVE– Jakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM membuat analisis kebencanaan yang terjadi di Indonesia. Analisis meliputi musibah gempa bumi hingga tanah longsor.

PVMBG menganalisis gempa bumi yang terjadi sejak hari Sabtu (13/10) hingga hari ini di Tenggara Bitung, Sulawesi Utara dan Perairan Selatan Banten. Gempa yang mengguncang Tenggara Bitung pada hari Sabtu berpusat di laut dan daerah terdekat pusat gempa sebagian besar tersusun oleh endapan aluvium berumur kuarter, dan endapan sedimen tersier sehingga rentan terhadap guncangan akibat gempa.

Gempa ini dirasakan di Tomohon dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) I, Manado dengan skala MMI II-III dan Pos Gunung Soputan dengan skala MMI II. Penyebab gempa karena lokasi diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zoba subduksi Punggungan Mayu.

“Diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi Punggungan mayu sebelah timur pulau Sulawesi,” ujar PVMBG dalam keterangan tertulis yang disampaikan Menteri ESDM Ignasius Jonan, Minggu (14/10/2018).

Sedangkan untuk gempa di Perairan Selatan Banten pada pagi tadi disebabkan reaktivasi sesar yang disebabkan oleh litosfer samudera yang mendekati zona subduksi dan menekuk ke dalam parit (trench) laut dalam. Gempa tidak menyebabkan gelombang tsunami dan belum ada laporan mengenai intensitas guncangan. Masyarakat diimbau waspada akan gempa susulan.

“Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil,” imbau PVMBG.

Tidak hanya gempa bumi, PVMBG menganalisis kejadian tanah longsor, yang terbaru di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara dan Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Terdapat 24 desa yang tersebar di 11 kecamatan terdampak banjir dan PVMBG mencatat longsor di Mandailing Natal dan mengakibatkan 10 orang tewas dan 10 orang lainnya tertimbun longsor dan masih dievakuasi. Longsor disebabkan pelapukan pada lokasi.

“Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Gerakan tanah tersebut terjadi karena tanah pelapukan pada lokasi tersebut bersifat sarang dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi,” terang PVMBG.

Sementara longsor di Aceh Singkil mengakibatkan sejumlah jalan lintas utama terputus sehingga tidak bisa dilalui kendaraan berat. Longsor diakibatkan pelapukan di lokasi dan tingginya curah hujan.

“Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan dan terjadi karena tanah pelapukan pada lokasi tersebut bersifat sarang dan mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi,” kata PVMBG.

PVMBG juga memantau 69 gunungaapi aktif secara terus menerus. Ada 1 gunung api yang berstatus Awas sejak 2 Juni 2015 yaitu Gunung Sinabung sementara 2 gunung api berstatus Siaga, 18 berstatus Waspada, dan sisanya 48 gunung api berstatus Normal.
(th)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *