Apa yang Bisa Kita Pelajari dari “Kematian Palsu” Tahanan Spanyol?

BERITALIVE – Pernahkah Anda membayangkan bahwa anda terbangun di kantong jenazah atau meja autopsi? Tentu nya saja pasti akan sangat menakutkan jika itu memang terjadi pada diri kita.

Namun itulah yang sudahdialami Gonzalo Montoya Jimenez, seorang tahanan di Asturias, Spanyol. Jimenez yang terbangun sesaat sebelum dirinya akan di autopsi oleh para dokter forensik.

Kasus ini awal nya bermula dari saat Jimenez yang sudah tidak muncul di apael pagi penjara sudah ditemukan tidak responsif di selnya. Tak merasakan bahwa ada tanda-tanda vital, dua dokter yang bertugas kemudian langsung akan menyatakan bahwa pria ini telah meninggal.

Bahkan, dokter forensik yang akan memeriksanya dari selang satu jam pun sudah menyatakan bahwa hal yang sama.

Sebenarnya, “meninggalnya” Jimenez tidak mendadak. Sehari sebelumnya, dia mengeluh sudah kurang enak badan. Meski tidak diketahui apa yang penyebab sakitnya Jimenez, tapi otoritas penjara juga bisa menggambarkan pria itu mengalami sianosis.

Sianosis sendiri adalah perubahan warna keunguan pada kulit akibat sirkulasi yang buruk atau kekurangan oksigen pada tubuh. Hal ini biasanya juga menyebabkan kekakuan mayat (rigor mortis).

Kekakuan mayat ini yang biasanya menjadi salah satu tanda fisik kematian. Mungkin hal inilah yang menyebabkan ketiga dokter yang memeriksa Jimenez menyatakan bahwa dia telah meninggal.

Setelah dinyatakan meninggal, Jimenez dibawa ke kamar mayat rumah sakit dengan kantong jenazah untuk di autopsi. Dia bahkan telah menghabiskan waktu di ruangan pendingin untuk mengawetkan tubuhnya.

Beberapa jam sebelum autopsi dilakukan, dokter ahli patologi forensik yang akan melakukan prosedur itu menyadari kesalahan. Ia mendengar suara seperti dengkuran dari kantong mayat Jimenez.

Dokter forensik (ahli patologi) itu kemudian membuka kantong mayat dan menemukan Jimenez masih hidup.

Kasus kesalahan diagnosis kematian ini tentu membingungkan banyak pihak, termasuk otoritas penjara.

“Saya tidak bisa berkomentar apa yang terjadi di Institute of Legal Medicine. Tapi tiga dokter telah melihat tanda-tanda kematian secara klinis sehingga masih belum jelas mengapa ini terjadi,” ungkap juru bicara penjara Spanyol dikutip dari Science Alert, Rabu (10/01/2018).

JM

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *