Balai Arkeologi Teliti Benteng “Van den Bosch”

Pekerja membersihkan rumput di Benteng Van Den Bosch, Ngawi, Jawa Timur, Rabu (27/5/2015). Benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1839 di delta pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun tersebut rencananya akan dijadikan bangunan cagar budaya serta obyek wisata sehingga dapat dikelola secara maksimal. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Pekerja membersihkan rumput di Benteng Van Den Bosch, Ngawi, Jawa Timur, Rabu (27/5/2015). Benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1839 di delta pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun tersebut rencananya akan dijadikan bangunan cagar budaya serta obyek wisata sehingga dapat dikelola secara maksimal. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Sleman (ANTARA News) – Balai Arkeologi Yogyakarta akan kembali melakukan penelitian bangunan peninggalan sejarah Perang Dunia Kedua Benteng “Van den Bosch” di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

“Kami akan melakukan penelitian Benteng Van den Bosch untuk yang ke dua kalinya, kemungkinan tahun depan sudah bisa dimulai penelitian,” kata Peneliti Sarana Pertahanan Masa Perang Dunia Kedua, Balai Arkeologi Yogyakarta Muhammad Chawari, Senin.

Menurut dia, Benteng Van den Bosch tersebut seperti halnya Benteng “Vastenburg” di Surakarta, Jawa Tengah atau juga Vredeburg di Yogyakarta, yakni sebuah bangunan benteng pertahanan yang dibuat oleh Belanda saat masa penjajahan.

“Benteng peninggalan jaman penjajahan Belanda saat Perang Dunia Kedua, mirip di Solo dan Yogyakarta,” katanya.

Ia mengatakan, penelitian Benteng Van den Bosch ini dilakukan setelah penelitian mengenai sarana pertahanan penjajahan Jepang, berupa bunker dan gua di DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sudah dianggapnya cukup.

“Penelitian sarana pertahanan Jepang sudah selesai, hanya tinggal membuat laporan dan nantinya dijadikan jurnal untuk pembelajaran. Kecuali memang ada hal-hal yang khusus, yang memang harus dilakukan penelitian lagi,” katanya.

Penelitian yang telah dilakukannya tersebut, diantaranya di Sleman dan Bantul. Purworejo, Cilacap, Kebumen. Brebes, Tegal, Banyumas. Lumajang, Jember. Banyuwangi, Jepara, Kudus, Pati, serta Madura.

“Masih banyak gua maupun bunker peninggalan Jepang yang belum termanfaatkan dengan baik. Bahkan juga ada yang sampai kini masih terpendam, terutama yang ada di lereng bukit,” katanya.

Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto, mengatakan penelitian dilakukan didasarkan pada permasalahan.

“Tugas kami sebagai amanat menjawab permasalahan terutama tentang peradaban masa lalu. Jadi setiap situs atau objek cagar budaya berbeda masalahnya. Dan tidak ada yang tidak penting,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *