Berkualitas buruk, air Sungai Bengawan Solo sulit diolah jadi air bersih


BERITALIVE
–¬†
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Solo kesulitan mengolah air baku Sungai Bengawan Solo menjadi air bersih. Surutnya volume air memasuki musim kemarau ini membuat tingkat kekeruhan air baku di sungai terpanjang Pulau Jawa itu di bawah standar.

Kepala Bidang Produksi PDAM Solo, Giyoto mengatakan, tingkat kekeruhannya saat ini di bawah 5 Nephelometric Turbidity Units (NTU). Sesuai ketentuan Kemenkes, standar air baku sungai yang bisa diolah harus 5-15 NTU. NTU merupakan metode untuk mengukur tingkat kekeruhan air sungai dengan menggunakan alatturbidimeter.

“Sesuai ketentuan Kemenkes, standar air baku sungai yang bisa diolah harus 5-15 NTU,” ujar Giyoto, Rabu (13/9).

Giyoto menjelaskan, prinsip dari metode NTU adalah sumber cahaya yang dilewatkan pada sampel (air), di mana intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer formazin sebagai larutan standar.

“Debit air Sungai Bengawan Solo saat ini sangat kecil, dan banyak tercemar polutan sehingga sulit diolah menjadi air bersih. Selain sampah rumah tangga, pencemaran juga disebabkan oleh limbah cair dari industri tekstil,” jelas Giyoto.

Sebagai upayanya, Giyoto mengungkapkan sebulan terakhir ini pihaknya membeli lumpur dari Mojolaban, Sukoharjo. Lumpur tersebut digunakan untuk bahan campuran dalam mengolah air baku Sungai Bengawan Solo. Lumpur alami tersebut berfungsi untuk meningkatkan tingkat kekeruhan, sekaligus untuk mengikat polutan yang terkandung dalam air. Sehingga air baku bisa diolah menjadi air bersih di Instalasi Pengolahan Air (IPA).

“Mengolah air baku sungai yang keruh karena tercampur lumpur itu lebih mudah dibanding mengolah air sungai yang hitam dan bau akibat tercemar limbah rumah tangga dan kimia,” papar Giyoto.

Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Surakarta, Tri Atmojo Sukomulyo, menerangkan, selain dari Mojolaban, pihaknya juga akan membeli lumpur dari Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Sejak Agustus lalu PDAM Solo sudah membeli empat 4 truk lumpur per pekan dengan harga Rp 500 ribu per truk.

“Pembelian lumpur masih akan dilakukan hingga akhir Oktober. Biaya produski air bersih PDAM otomtis naik, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk tetap bisa mengolah air bersih,” jelas dia.

Jika sampai terjadi kekurangan sumber air baku Sungai Bengawan Solo untuk diolah menjadi air bersih, pihaknya akan meminta Perum Jasa Tirta 1 menggelontorkan air dari Waduk Gajah Mungkur (WGM). Namun, saat ini pihaknya masih mengupayakan pengolahan air baku semaksimal mungkin.

“PDAM Solo memiliki dua instalasi pengolahan air (IPA) yang memanfaat Sungai Bengawan Solo. Masing-masing IPA menghasilkan debit air 100 liter/detik,dan 50 liter/detik. Selain dari IPA Bengawan Solo, kebutuhan air PDAM Surakarta juga dipasok dari mata air Cokro di Kecamatan Tulung, Klaten, dengan debit air 387 liter/detik. PDAM juga membuat sumur dalam yang tersebar dalam 26 titik,” ucap Tri. (hn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *