Dapat Modal dari Astra, UMKM Ini Bermozet Puluhan Miliar Rupiah/Tahun

Dapat Modal dari Astra, UMKM Ini Bermozet Puluhan Miliar Rupiah/Tahun

Jakarta -Presiden Direktur PT Astra International Prijono Sugiarto hari ini blusukan ke sejumlah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mitra binaan Astra Mitra Ventura, yang disebut dengan Perusahaan Pasangan Usaha (PPU).

Dalam blusukannya kali ini, ada 4 ‎ PPU yang dikunjungi yakni PT Galih Ayom Premasti dan PT Aristo Satria Mandiri Indonesia yang berlokasi di Tambun Bekasi, PT Eran Tekniktama di Cileungsi dan PT Sempana Jaya Agung di Depok.

Dari kunjungan 4 PPU ini diketahui informasi yang sangat menarik, bagaimana sebuah rumah produksi kelas UMKM mampu berkontribusi dalam industri raksasa kendaraan‎ sepeda motor dan mobil. Selain menyuplai suku cadang untuk grup Astra, 4 PPU bahkan juga melayani pasar non Astra dengan omzet hingga puluhan miliar rupiah per tahun.

PPU pertama yang dikunjungi adalah PT Galih Ayom Pramesti (GAP) yang didirikan tahun 1992 oleh Ignatius Sumardi, menghasilkan sejumlah suku cadang salah satunya adalah piston silinder untuk Agya dan Ayla, dua produk mobil murah alias LCGC besutan Grup Astra.

“Kami memproduksi Piston Cylinder dan Shaft Release untuk LCGC‎. Kami juga melakukan produksi untuk kendaraan lain yang Astra dan Non Astra,” jelas Sumardi, yang merupakan pemilik sekaligus Direktur utama GAP di pabriknya, Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/6/2015).

Dari sisi kinerja perusahaan tampak perusahaan ini cukup positif. Mendapat bantuan permodalan sebesar Rp 5,4 miliar dari Astra Mita Ventura, perusahaan telah berhasil mengembalikan bantuan permodalan tersebut dan saat ini hanya tinggal tersisa Rp 1,8 miliar.

Dari bantuan permodalan tersebut, perusahaan ini bisa memiliki aset senilai Rp 8,7 miliar berupa mesin dan peralatan dan telah mempekerjakan 46 orang tenaga produksi dan 13 orang tenaga administrasi.

Bukan hanya bantuan permodalan, ia mengaku mendapat bantuan pelatihan dan manajemen perusahaan tentang bagaimana mengelola perusahaan yang baik dan berkelas.

“Dengan kinerja dan man‎ajemen yang baik di tahun 2014 omzet usaha kami menembus angka Rp 16,7 miliar,” tuturnya.

Selain menyuplai suku cadang untuk grup usaha Astra yang mencapai 16% dari total produksinya, perusahaan ini juga menyupali suku cadang untuk berbagai perusahaan lain seperti Pt Kawasaki sebesar 69%, PT Toyo Denso 1%, PT Yanmar Diesel sebesar 5% dan lainnya.

PPU ke dua adalah PT Aristo Satria Mandiri Indonesia (ASMI) yang memproduksi berbagai komponen kendaraan. Perusahaan yang didirikan oleh Dadi Siswaya dengan bermodalkan 3 mesin bekas ini, kini telah berkembang menjadi perusahaan beromzet Rp 15,5 miliar per tahun.

“Saya dirikan pertama kali tahun 1999. Modalnya mesin bekas, ada 3 buah waktu itu. Omzet di tahun 2014 Rp 15,5 miliar,” ujar Dadi di lokasi pabrik miliknya di Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/6/2015).

Perusahaan ini mendapat suntikan modal dari Astra Mitra Ventura sebesar RP 5,5 miliar di tahun 2011 sehingga mampu meningkatkan produksi dengan menambah mesin dan peralatan yang menjadi asetnya saat ini dengan nilai mencapai Rp 12,6 miliar.

“Kami terus mempertahankan kualitas dan meningkatkan kinerja sehingga kami bisa lebih besar lagi,” sambung dia.

ASMI melakukan produksi dengan supli 100% untuk memnuhi kebutuhan sukucadang grup usaha Astra. 43% untuk PT Denso Indonesia, 43% untuk PT NSK Bearing MFG Indonesia, PT TD Automotive Compresor Indonesia sebesar 10%, dan PT Hamaden Indonesia MFG sebesar 4%.

PPU ke tiga adalah PT Eran Teknikatam yang didirikan duo pengusaha muda Rony Purwanto dan R Agung Nugraha. Mendapat bantuan permodalan dari Astra Mitra Ventura sebesar Rp 6,3 miliar di tahun 2008, per‎usahaan ini terus menggeliat menjadi perusahaan skala UMKM yang berdaya saing.

Awalnya, perusahaan ini hanya bermodalkan 5 mesin dengan jumlah karyawan sebanyak 15 orang. “Sekarang kita punya 72 unit mesin dan mempunyai‎ jumlah karyawan sebanyak 100 orang,” sebut Rony di Pabriknya di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Senin (1/6/2015).

Dengan perlengkapan dan aset berupa mesin dan berbagai peralatan senilai Rp 15,8 miliar, perusahaan ini mampu meraup omzet hingga Rp 25,7 miliar.

“Omzet tahun 2014‎ sebesar Rp 25,7 miliar. 100% untuk grup usaha Astra. Utamanya untuk Astra Oto Parts sebesar 44% dan PT Astra Komponen Indonesi sebesar 10% dari total produksi kami,” tutur dia.

Berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini diantaranya gagang sepion sepeda motor Honda, Band Conn Tube, Nut Spring dan lainnya.

Selain produk sukucadang untuk sepeda motor, pabriknya juga memproduksi berbagai sukucadang dan perlengkapan berbahan besi seperti Rangka Penahan atau Bracket untuk Tivi LCD.

PPU terakhir adalah PT Sempana Jaya Agung yang didirikan tahun 1983 dan saat ini dilanjutkan pengembangan usahanya oleh gernerasi ke dua pemilik yaitu Willy Santoso.

Perusahaan beromzet Rp 56,6 miliar per tahun ini‎ saat ini telah mempekerjakan 270 orang dan telah mengantongi banyak penghargaan baik dari Gurp Astra maupun pihak lain.

“Kami fokus mengembangkan usah bidang besi cor cetak ‎yang saat itu belu mbegitu dikenal. Sekarang kami terus meningkatkan usaha dan mengembangkan bisnis menjadi perusahaan berkelas di dalam maupun luar negeri,” sebut dia dalam paparan di Bakmi Golek Resto, Cibubur, Jakarta, Senin (1/6/2015).

Perusahaan ini memproduksi berbagai sukucadang yang dipropduksi dalam metode besi tuang cetak seperti handle rem dan kopling sepeda motor, foot step, tutup silinder mesin dan lain-lain.

60,3% produksi perusahaan ini diserap oleh Grup Usaha Astra dan sisanya diserap oleh perusahaan lain seperti PT Toa Indonesia, PT Kawasaki Motor Indonesia dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *