Jusuf Kalla Saat Wawancara, Saya Tak Memiliki Rahasia Khusus

BERITA LIVE– Bandung -Sehari menjelang paripurna tugas sebagai wakil presiden di periode kedua, Sabtu (19/10/2019), Jusuf Kalla (JK) sama sekali tak mengendurkan aktivitasnya. Dia antara lain menerima kunjungan koleganya, Wakil Presiden Republik Rakyat China Wang Qishan di Istana Wapres, Jalan Merdeka Selatan. Selanjutnya acara diisi dengan meladeni wawancara sejumlah media.”Dengan kalian ini wawancara yang ke-37 dalam sebulan terakhir,” kata JK .

Untuk menyiasati agenda yang padat di tengah keterbatasan waktu, JK memutuskan untuk menggabung beberapa media dalam satu sesi wawancara. Meskipun begitu, durasi wawancara tetap maksimal 30 menit. “Saya minta maaf ya. Kalau tidak begini tidak selesai-selesai,” ujarnya.

Di bagian awal, lelaki kelahiran Watampone, 15 Mei 1942 itu mengungkapkan kesan-kesannya mendampingi dua presiden berbeda, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jokowi. Menurutnya kedua figur itu tidak untuk dibanding-bandingkan seolah yang satu lebih baik dari lainnya. Sebab masing-masing punya gaya kepemimpinannya sendiri.

“Namanya juga pemerintahan. Memang suasana berbeda, tetapi buat saya sama saja,” ujarnya.

Tanpa bermaksud mengkritik, dia mengungkapkan bagaimana Jokowi biasa mengambil keputusan secara kolektif kolegial yang dibahas melalui berbagai rapat. Kadang-kadang dalam sehari bisa ada 2-3 rapat. Karena itu dia kemudian lebih banyak berkantor di bekas Gedung DPA yang berdampingan dengan Istana Merdeka.

Pada bagian lain, JK dengan semangat bercerita soal kiprahnya di bidang perdamaian. Misalnya soal penanganan pengungsi Rohingya di Myanmar dan konflik berpuluh tahun di Afghanistan. Dia mengakui proses perdamaian di Afghanistan masih belum ada titik terang mengingat rumitnya persoalan dan banyaknya pihak yang terlibat.

Di era SBY, 2004-2009, JK berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian di Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Terkait dengan itu pula sebelumnya dia meminta kepada SBY untuk memboikot sejumlah produk Swedia, seperti mobil Volvo yang sejak era Presiden Soeharto biasa digunakan untuk para menteri.
“Waktu itu kita marah sama Swedia karena dia berpihak atau melindungi para tokoh GAM. Jadi kita boikot semua barang Swedia seperti Volvo dan Erickson,” ujarnya.

Terkait rencana setelah pensiun, selain ingin beristirahat juga akan jalan-jalan ke sejumlah objek wisata di dalam dan luar negeri. “Ke mana saja, masih dirancang.”

Selain itu tak tertutup kemungkinan dirinya akan tetap berkiprah di bidang kemanusiaan dan perdamaian yang menjadi minatnya. Juga akan menulis semacam memoar seputar perjalanan hidupnya. Soal kemungkinan ada berbagai rahasia yang belum diketahui publik lewat pemberitaan media massa selama ini, JK menepisnya. “Ah, saya tidak punya rahasia, semua terbuka. Apalagi setiap Selasa Anda bisa tanya apa saja kan,” ujarnya.
(th)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *