Kredit Perbankan Melambat, BI Dorong Lewat Pelonggaran Aturan LTV

15bf40e3-f3b6-4d76-8ca1-cdee3f83ef8c

BERITALIVEBank Indonesia (BI) saat ini menaruh perhatian terhadap perlambatan penyaluran kredit oleh perbankan sebagai imbas dari perlambatan ekonomi yang tengah terjadi saat ini.

Dari kacamata BI, perlambatan penyaluran kredit oleh perbankan justru bakal memberikan kontribusi pada perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Karena, bila penyaluran kredit lebih sedikit, maka tak banyak kegiatan ekonomi yang bisa dilakukan.

Karena pembiayaan di Indonesia masih didominasi dari sektor perbankan yang mencapai 80%,” kata Direktur Departemen Kebijakan Makro Prudential Bank Indonesia Yati Kurniati, di Gedung BI, Jakarta, Jumat (27/5/2016).

Saat ini, kata dia, perlambatan penyaluran kredit yang terjadi lebih diakibatkan oleh sentimen tingginya kredit bermasalah alias Non Performing Loan (NPL) yang pada Maret 2016 tercatat sebesar 2,81%. Padahal setahun sebelumnya, posisi NPL rata-rata perbankan nasional berada di bawah level 2,5%.

Kondisi ini membuat perbankan lebih selektif dan hati-hati dalam menyalurkan kreditnya. Pencairan kredit hanya diberikan kepada nasabah yang sudah dikenal sementara sulit melakukan hal yang sama untuk nasabah baru.

Hingga kuartal I-2016 pertumbuhan kredit perbankan hanya sebesar 8,71%,” kata dia.

Padahal, di tahun 2015, pertumbuhan kredit Kuartal I bisa mencapai angka 11%. Kondisi ini menunjukkan memang ada perlambatan dalam hal penyaluran kredit perbankan.

Bila kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan membuat kondisi perekonomian nasional kian memburuk. Perlambatan penyaluran kredit pada akhirnya dapat meningkatkan NPL sektor perbankan itu sendiri.

Mengambil contoh sederhana saja, pada sektor kredit perumahan, penurunan nilai dan jumlah penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) membuat industri sektor properti dan turunannya ikut terimbas.

Pengembang kehabisan dana segar untuk melakukan pembangunan lantaran kas internalnya pun terbatas. Akibatnya, tak banyak pembangunan rumah baru yang bisa dilakukan.

Lebih jauh, kondisi ini mengakibatkan industri material dan jasa konstruksi juga kekurangan pemasukan. Kemampuan pelaku industri di sektor ini untuk membayar kewajiban perbankannya pun ikut menurun sehingga ujungnya berimbas pada peningkatan NPL perbankan.

Ada hubungan antara perlambatan kredit dan risiko kredit (NPL) meningkat,” tuturnya.

Untuk itu, diperlukan terobosan dari BI selaku regulator sektor perbankan untuk mendorong perbankan kembali mau meningkatkan penyaluran kreditnya.

Salah satu yang tengah diupayakan adalah dengan pelonggaran Loan to Value alias LTV. Dengan LTV yang lebih longgar, beban uang muka alias Down Payment (DP) yang harus ditanggung calon pembeli rumah jadi lebih ringan.

Kemampuan masyarakat mengajukan KPR pun meningkat dan bank lebih mudah dalam melakukan penyaluran kredit, setidaknya di sektor properti.

Dengan cara ini, diharapkan risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam dapat ditahan dan pertumbuhan ekonomi dapat digenjot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *