Masyarakat Diminta Untuk Lebih Bijak Dalam Konsumsi Susu Kental Manis

BERITALIVE – Sejak BPOM mengeluarkan HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3), susu kental manis menjadi topik yang diperbincangkan publik.

Eni Gustina MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehat an RI, mengatakan, SKM bukan diperuntukkan bagi bayi dan anak-anak karena kandung an gulanya tinggi. “SKM hampir 50% berisi gula sehingga tidak bisa disetarakan dengan susu berprotein tinggi,” ujar Eni dalam Peringatan Hari Anak Nasional 2018 PP Muslimat NU dan YAICI Tanda Tangani MoU Edukasi Masyarakat “Bijak Menggunakan SKM”.

Secara produk, SKM sudah memenuhi aturan edar yang berlaku sesuai standar BPOM. Masalahnya, promosi SKM diperuntukkan bagi anakanak, khususnya balita. Sedianya kebutuhan gula pada balita hanya 35 gram atau 3 sendok makan per hari dan di atas 5 tahun 50 gram atau 5 sendok makan. Sementara 55% kandungan SKM mencakup gula. “SKM aman untuk usia di atas balita, asal bijak dan sesuai kebutuhan anak,” kata Eni. Kelebihan gula memicu berbagai risiko penyakit tidak menular (PTM). Indonesia telah banyak mengeluarkan uang untuk pengobatan PTM. Kemenkes telah melakukan berbagai upaya, salah satunya sosialisasi terkait konsumsi gula, garam, dan lemak.

Sementara itu, Nurhayati Said Aqil Siradj, PP Muslimat NU, memaparkan, PP Muslimat NU sebagai orga nisasi Islam terbesar di Indonesia bertanggung jawab terhadap apa yang dikonsumsi masyarakat. Karena itu, PP Muslimat bekerja sama dengan YAICI mengawal surat edaran BPOM terkait label dan iklan pada produk susu kental manis. “Intinya kami ingin masyarakat teredukasi serta bijak dalam menggunakan SKM agar tidak diberikan kepada anak balita, karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang akan menjadi generasi emas pada 2045,” ujar Nurhayati. Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan, YAICI mengapresiasi BPOM yang telah tegas menindaklanjuti persoalan ini melalui SE.

Namun, Arif meminta pemerin tah dan seluruh elemen masyarakat dapat mengawal pelaksanaan aturan ini oleh produsen. “BPOM telah menge luarkan surat edaran terkait tata cara promosi dan label SKM yang tidak boleh menampil kan anak-anak di bawah 5 tahun dan ini harus didukung semua pihak,” kata Arif. BPOM yang diwakili Dr Mauizzati Purba Apt MKes, Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM, menegaskan, SKM bukan diperuntukkan bagi bayi, melainkan untuk topping atau makanan tam bahan. “BPOM telah menge luarkan surat edaran untuk menyam paikan informasi yang benar dan cara memanfaatkan suatu produk,” ucap Mauzzati. YAICI dan PP muslimat NU juga berharap para produsen mengubah kebijakan per iklanan mereka dengan meng edukasi masyarakat akan kegunaan SKM sebenarnya.

“Pro dusen SKM juga bisa meng gunakan dana CSR mereka untuk meng edukasi masyarakat secara langsung akan kegunaan SKM sebenarnya,” tutur Arif. Edukasi bijak meng guna kan SKM nantinya langsung menya sar masyarakat di sejumlah kota di Indonesia. Dengan edukasi langsung ter hadap masyarakat, diharapkan secara perlahan persepsi ma syarakat dapat berubah. Ma sya rakat juga dapat lebih me mahami fungsi produk SKM sebagai bahan makanan dan tidak lagi memberikannya un tuk konsumsi atau minuman anak. [DP]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *