Menguak Penyebab Sesungguhnya Kecelakaan di Tol Cipularang

Berita Live – Kecelakaan maut terjadi Tol Cipularang di KM 91.400 ruas Bandung mengarah ke Jakarta. Kecelakaan beruntun ini melibatkan 21 kendaraan dan mengakibatkan 8 orang meninggal dunia, 28 orang luka. Peristiwa tersebut terjadi Senin, 2 September, sekitar pukul 13.00 WIB.

Pihak Kementerian Perhubungan melakukan evaluasi dan investigasi akan kejadian tersebut.

“Pertama kali kami prihatin atas kejadian itu, dan memang harus ada evaluasi yang mendasar. Oleh karenanya, saya menugaskan Dirjen Darat dan KNKT untuk mengevaluasi selain hal-hal yang sudah terlihat kasat mata yang tidak taat aturan dan sebagainya,” ucap Menhub Budi Karya Sumadi di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Selain itu, karena acap kali terjadi kecelakaan di KM 90, pihaknya juga akan melakukan investigasi selama 1 minggu.

“Oleh karenanya, saya minta untuk kerjasamanya dengan ITB. Bisa jadi ini berkaitan dengan alignment daripada jalan. Oleh karenanya saya tugaskan kemarin, mungkin kita butuhkan kalau berkaitan dengan teknis struktural. Kita butuhkan paling tidak satu minggu untuk menganalisis apa yang terjadi. Karena yang sering terjadi kan di KM 90 ini,” ungkap Budi.

Dia menyadari, dalam kecelakaan tersebut, masalah kedisiplinan pengendara dan kelebihan muatan, menjadi salah satu yang harus diperhatikan terus menerus.

“Satu masalah disiplin kecepatan yang lebih. Tentunya kita akan mengatur dengan cara-cara yang lebih pasti, apakah dengan teknik kamera atau apa dengan satu punishment sangat signifikan sehingga sopir-sopir itu juga taat. Yang kedua ini overloading. Ini juga masalah karena berkaitan dengan kestabilan. Namun, overloading ini berkaitan dengan ekspor ya,” jelas Budi.

Untuk kelebihan muatan tersebut, sebenarnya dari bulan Mei 2019 sudah tidak diperbolehkan lagi.

“Kita akan bicara lagi dengan para pelaku-pelaku (usaha). Bahkan, mungkin kita akan secara terbatas melakukan sesuatu exercise terhadap overloading ini. Paling tidak ada satu treatment kita nyatakan mobil-mobil yang overloading itu apa treatment-nya. Jadi ini kita ini diskusikan dengan stakeholder,” kata Budi.

Soal hasilnya satu minggu nanti seperti apa, pasti tidak jauh dari cara berkendaraan yang lebih baik. Meskipun sudah ada standarnya.

Kemudian, kata Budi, jika ada konstruksi yang tidak sesuai maka pihaknya akan minta Jasa Marga untuk memperbaiki.

“Tapi paling tidak, kita akan minta pada Jasa Marga untuk memberikan suatu warning di tempat itu. Dengan lampu, mungkin adanya petugas yang interaktif memberikan perhatian, mungkin juga dengan bunyi-bunyian, apa segala sesuatu, sehingga tempat yang legendaris, atau selalu terjadi di situ bisa diselesaikan dengan baik,” pungkasnya.

Secara terpisah, Humas PT Jasa Marga Cabang Purbaleuyi Nandang mengungkapkan pihaknya berencana akan menambah fitur keamanan tambahan di KM 91 Jalan Tol Purbaleunyi. Diantaranya adalah penambahan lampu PJU.

“Untuk jumlah dan sebagainya masih dikaji dulu,” jelasnya pada Jawa Pos kemarin (3/9/2019).

Selain itu, akan dibuat jalur pengaman tambahan di kanan kiri bahu jalan tol berupa urukan pasir. Urukan akan meninggikan badan jalan sehingga jika suatu saat terjadi rem blong dan kendaran keluar jalur, akan ditahan oleh badan jalan pasir tersebut. Tidak langsung nyungsep ke jurang.

Sementara untuk rambu, menurut Nandang sejauh ini masih cukup. “Apakah nanti akan ditambah kita lihat dulu,” jelasnya.

Para pengendara yang melintas di KM 91 Tol Cipularang meski berhati-hati bila melaju dengan kecepatan tinggi karena badan Jalan Tol Purbaleunyi di lokasi tersebut memang menurun. Kontur pegunungan membuat badan jalan agak tinggi dengan jurang di kanan kiri jalan.

Sejak bulan Februari hingga September 2019 saja, sudah 3 kali kecelakaan yang terjadi di sekitara Km 90-hingga 91. Selain itu, ramai diperbincangkan bahwa badan jalan KM 91 tidak aman karena rawan longsor.

Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Pergerakan Tanah Wilayah Barat PVMBG Sumaryono memang kawasan tersebut memiliki resiko gerakan tanah lambat. “Tapi memang sudah ada dari dulu. Jadi tidak ada kaitannya dengan kecelakaan,” jelasnya.

Sumaryono mengatakan, sepengetahuannya, pihak jalan tol telah melakukan beberapa rekayasa engineering untuk mengatasi potensi gerakan tanah ini. “Lereng-lereng sudah diperkuat untuk Km 91-92,” katanya. (cp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *