‘Pelabuhan Pintar’ Jadi Obrolan Para Operator Pelabuhan Dunia

Pelabuhan Pintar Jadi Obrolan Para Operator Pelabuhan Dunia

Hamburg -Isu terkait pengembangan smartport atau ‎ ‘Pelabuhan Pintar’ menjadi bahan perbincangan utama para petinggi operator pelabuhan seluruh dunia yang berkumpul di Hamburg, Jerman dalam rangka forum International Association of Ports and Harbours (IAPH) World Port Conference (WPC), yang ke-29 mulai 1-5 Juni 2015, yang dihadiri oleh 700 lebih delegasi dari 90 negara.

Forum ini merupakan pertemuan dua tahunan para pengelola pelabuhan di seluruh dunia untuk saling berbagi informasi, soal sektor pelabuhan terkini dan mencari solusi untuk berbagai tantangan ke depan.

Pada pembukaan konferensi yang digelar di CCH di Hotel Radisson Blu, Hamburg, Jerman, Selasa (2/5/2015), dibuka oleh IAPH President Grant Gilfillan, Parliamentary State Secretary at The Federal Ministry of Transport‎ Enak Ferlemann, Minister of Economy Transport dan innovation Hamburg Frank Horch, dan Chairman of The Management Board Hamburg Port Authority Jens Meier.

Apa itu smartport?

Smartport atau ‘pelabuhan pintar’ sebuah sistem manajemen pengelolaan pelabuhan berbasis IT atau teknologi khususnya dalam sistem logistik, memanfaatkan energi terbarukan, pengelolaan pelabuhan yang berkelanjutan. Dampaknya akan dihasilkan pengelolaan pelabuhan yang efisien dan ramah lingkungan.

Sebagai tuan rumah acara IAPH ke-29, Chariman Hamburg Port Authority Jens Meier mengatakan, ‎tantangan para stakeholder pelabuhan di seluruh dunia di masa mendatang soal globalisasi dan krisis global. Menurutnya operator pelabuhan harus lebih kreatif menjawab tantangan, salah satu jawabannya adalah dengan konsep smartport. Saat ini, Pelabuhan Hamburg salah satu pelabuhan di Eropa yang menggunakan energi angin dan tenaga surya untuk kebutuhan energi listrik pelabuhan.

“Kita implementasikan itu ke pelabuhan kita. Smartport menjadi solusi pelabuhan di Hamburg,” katanya saat memberikan sambutan.

Sementara itu, IAPH President Grant Gilfillan mengatakan, ‎konsep smartport yang memanfaatkan teknologi dapat mengubah ekonomi, khususnya sektor maritim. Pengelolaan pelabuhan harus mendukung konsep pengelolaan yang berkelanjutan terutama lingkungan.

“Pelabuhan adalah kota, kota adalah pelabuhan. Ada kehidupan dan aktivitas di situ,” katanya.

Sementara itu Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino mengatakan, Indonesia memang mau tak mau harus menuju pengelolaan pelabuhan berbasis smartport. Namun masih butuh waktu, sehingga ajang IAPH di Hamburg bisa menjadi proses belajar bagi operator pelabuhan di Indonesia.

“Di sini kita masih belajar. Smartport itu kan soal energi yang green salah satunya misal energi pakai gas, pakai angin di pelabuhan,” kata Lino.

Ia mengatakan, para negara-negara maju punya kepentingan agar pelabuhan-pelabuhan negara berkembang termasuk Indonesia bisa efisien. Smartport salah satu cara agar pengelolaan pelabuhan lebih efisien dan menghasilkan lebih banyak profit.

Seperti diketahui IAPH berawal dari kegiatan 7 November 1955, sekitar 100 delegasi dari 38 pelabuhan dan organisasi maritim di 14 negara berkumpul di Los Angeles mengumumkan pembentukan IAPH.

IAPH telah terus berkembang menjadi aliansi Pelabuhan dalam lingkup global, mewakili sekitar 180 pelabuhan dan 140 usaha lain yang berkaitan dengan kepelabuhanan di 90 negara.

Tercatat, para anggota IAPH menangani lebih dari 60% perdagangan laut di dunia dan hampir 80% dari lalu lintas kontainer dunia. IAPH juga merupakan organisasi non-profit dan non-pemerintah (LSM) yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *