Peserta Acara Syiar Kekhalifahan Menceritakan Aksinya Ditolak Dimana-Mana

BERITA LIVE – Bus pariwisata berbagai ukuran berbaris dengan rapi di Arena Pekan Raya Jakarta. Beberapa bus sudah jalan duluan. Di luar bus, dekat trotoar, satu keluarga sedang berdiri. Sang ayah bolak balik masuk keluar bus mencari tempat duduk yang kosong untuk istri dan ketiga anaknya, tetapi tak dapat juga.

Mereka akhirnya duduk terpisah. Istri dan anak nya masuk ke mobil Avanza, sementara ayah nya naik bus.

Di dekat mereka, sopir-sopir bus ini sedang duduk dan menghisap rokok, menikmati jeda waktu sebelum kembali berjalan. Beberapa polisi juga berjaga di dekat mobil patroli, yang terletak di bagian paling belakang rombongan.

Rombongan telah merapikan barang sejak subuh Sabtu kemarin 17/11/2018. Malam sebelumnya mereka menumpang istirahat di Masjid At Taqwa PRJ, Kemayoran. Itu terpaksa dilakukan karena belum ada kepastian tempat untuk menginap dari panitia pusat. Meski sempat berselisih dengan pengelola masjid, akhirnya mereka diizinkan menginap dengan syarat pada pagi-pagi hari sudah harus berkemas.

Seorang pria dengan baju hijau panjang sedang mondar-mandir. Tulisan di baju yang belakangnya adalah “Khilafatul Muslimin.” Syahrin namanya, ketua rombongan daerah Sumbawa Barat. Ia sedang menghubungi panitia acara.

“Ini lagi mengurus tempat acara nanti, sebelumnya kan enggak jadi di Masjid Az Zikra. Tadi dapat kabar, acara bakal diadakan di Masjid Kubah Emas Depok,” kata Syahrin.

Bersama supir, Syahrin mengatur mau lewat dari mana. Berkali-kali ia menelepon seseorang untuk memastikan tempat nya. “Supaya jelas aja,” imbuhnya.

Seorang Pria dengan baju dan topi berwarna hitam bertuliskan lafaz tauhid datang. Ia mengenalkan diri adalah Fahri. Ia dari rombongan Sumbawa Barat juga, sama dengan Syahrin. Fahri datang ke Jakarta bersama istri dan dua anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar.

Fahri bercerita, untuk berangkat ke Jakarta ia mengeluarkan biaya sebesar Rp1 juta per kursi untuk pulang-pergi. Total yang ia habiskan adalah Rp3 juta untuk transportasi, belum untuk biaya menginap dan makan. “Itu ditanggung oleh masing-masing, kami sudah berprinsip seperti itu,” kata Fahri. Ia pun lalu pamit dan bergegas untuk masuk bus karena rombongannya hendak berangkat.

“Kalau mau, ikut saja mas ke Depok,” ajaknya. (VS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *