Sah Genap Setahun Si covid-19 di Indonesia

Berita Live– Bandung– Tepat hari ini, setahun lalu, Senin (2/3/2021), Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Mitos Indonesia ‘kebal’ Corona terpatahkan.
Dua kasus pertama tersebut adalah seorang ibu, saat itu berusia 64 tahun, dan putrinya berusia 31 tahun. Keduanya berinteraksi dengan seorang warga negara Jepang yang terkonfirmasi positif COVID-19.

“Dicek dan tadi pagi saya dapat laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif Corona,” kata Jokowi dalam konferensi pers kala itu.

Setahun berlalu sejak 2 kasus pertama ditemukan, kini tercatat sudah ada 1.341.314 kasus konfirmasi positif COVID-19 dengan kasus aktif sebanyak 153.074 pada Selasa (1/2/2021). Total sebanyak 1.151.915 pasien tercatat sembuh, sedangkan 36.325 kasus meninggal dunia.

Catatan ini menempatkan Indonesia di urutan pertama negara Asia Tenggara dengan jumlah kasus positif akumulatif paling tinggi. Di seluruh Asia, Indonesia menduduki peringkat ke-4 di bawah India, Turki, dan Iran.

Berbagai upaya membatasi persebaran virus telah dilakukan, tetapi belum tampak tanda-tanda pandemi akan berakhir dalam waktu dekat. Vaksinasi yang sudah dimulai di beberapa negara memupuk harapan agar setidaknya persebaran virus Corona lebih terkendali dengan terbentuknya herd immunity.

Secara global, tren penambahan kasus dalam beberapa pekan terakhir mengalami penurunan. Namun pada pakar meyakini virus Corona tidak akan benar-benar hilang, bahkan ada potensi akan menetap sebagai penyakit endemik.

Bagaimana di Indonesia?
Sepekan terakhir, penambahan kasus baru konsisten berada di bawah angka 10 ribu. Namun carut-marutnya pencatatan data membuat tren ini tidak terlihat menggembirakan, terlebih dengan jumlah testing yang juga terpantau menurun.

Ketua tim mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi, SpOT mengaku belum bisa memprediksi kapan Corona hilang di Indonesia.

Walaupun kecenderungan kasus virus Corona menurun di Indonesia, dr Adib mengingatkan bahwa kondisi pandemi juga perlu dilihat dari angka positivity rate, occupancy rate, dan recovery rate.

“Untuk angka perawatan di ICU, itu juga masih ada. Walaupun tidak sesulit mencari ICU pada bulan Januari, tapi angka hunian di ICU masih tinggi untuk pasien COVID-19, jadi saya kira kita belum bisa memprediksi kapan COVID-19 akan berakhir,” terang dr Adib dalam konferensi pers IDI Senin (1/3/2021).

Sementara itu, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo telah menetapkan target Indonesia ‘bebas’ COVID-19 pada 17 Agustus. Tidak harus diartikan nol kasus, Indonesia bebas COVID-19 artinya pertumbuhan kasus bisa dikendalikan.

Juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyebut, COVID-19 bisa terkendali jika tata kelola berjalan dengan baik. Kondisi paling ideal dan realistis menurutnya adalah desentralisasi penanganan hingga tingkat RT-RW.

“Belum tentu (nol kasus) kan kemampuan mengendalikan lain-lain dan dinamis, sekarang nol kasus besok bisa ada lagi, dikendalikan, nol kasus lalu kemudian aktivitas, ada lagi kasus, bisa dikendalikan,” jelas Prof Wiku.

Begitu banyak perubahan setahun belakangan. Kerinduan untuk bisa beraktivitas secara normal makin tak tertahankan. Apakah masih ada harapan untuk bisa bebas seperti dahulu lagi?
(th)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *